Halaman

Jumat, 21 Desember 2018

Selembar Kertas Hitam

Seperti selembar kertas hitam 
yang telah memudar 
Seakan memberitahu aku
Perubahan itu menunggu
Dan jangan pernah salahkan waktu

Dan ketika semuanya benar benar berubah
Tidak sesuai dengan rencana
Apa aku boleh kecewa dengan waktu?
Yang menuntunku dimana 
Aku....
Hanya bisa pura pura tidak tahu 

Aku hanya berusaha untuk pergi
Karna aku tidak ingin lebih tersakiti
Tapi aku juga tidak bisa membohongi
Hati ini....
Bahwa aku ingin kembali

Selembar kertas hitam
Yang masih aku simpan
Walau aku tau dia telah memudar 
Sampai aku benar benar mampu 
Untuk mulai mewarnainya
Dengan warna yang seharusnya

Sesuai dengan tuntunan waktu

Sabtu, 01 Desember 2018

Hallo Desember :))

Hallo Desember
Ketemu lagi tahun ini
Terimakasih cerita desember setahun kemarin
Kejutan apalagi kali ini
Sang Desember

Hallo Desember
Aku selalu menantikan kedatangamu
Dengan semua cerita ceritamu
Yang banyak sedihnya daripada senangnya
Terkadang seperi itu kan Desember?
Huh kau selalu datang dengan temanmu 
Yang biasa kau panggil Sang Hujan 
Tapi kenapa aku selalu menantikanmu?
Bisa kau jelaskan wahai Sang Desember?

Hallo Desember
Bolehkah aku meminta satu cerita bahagia yang berkesan kali ini?
Ayolah Desember
Kau senang sekali mengajak serta kebahagianku pergi bersamamu 
Jangan kau lakukan lagi kali ini
Wahai sang Desember

Hallo Desember
Aku ingin bercerita
Aku sedang jatuh cinta dengan Sang April
Bisakah kau mempertemukan aku dengan dia?
Kau pasti bingung 
Bagaimana kau melewatkan Januari Februari dan Maret

Hallo Desember
Kau dengar aku?
Aku tau kau sedang memikirkan kebahagiaanku kali ini
Aku percaya itu wahai Sang Desember

Sabtu, 24 November 2018

Hujan Kemarin Sore

Ada hati yang patah
bersama hujan kemarin sore
Menahan air mata hingga sesak di dada
bersama hujan kemarin sore

Seperti mendung yang datang tibatiba
Seperti itu pula hati yang patah seketika
Mendengar dia telah bersamanya

Hujan Kemarin Sore
Datang bersama angin
Dan pergi tanpa datangnya pelangi

Sore itu....
Apa kau menunggu hujan reda?
Dan berharap pelangi?
Jangan jangan kau telah kecewa dengan semesta
yang tidak mempertemukanmu dengan senja dan mendatangkan hujan 
Untuk menemanimu dikala patah

Tetap bertemanlah dengan semesta 
Yang semakin memperdalam lukamu

Sore itu....

Senin, 12 November 2018

Dengarkan Ceritaku! Kali Ini Beda.

Dengarkan Ceritaku
Bukan
Bukan dia pemilik kacamata minus itu 
Beda
Banyak bedanya 

Kali ini beda sungguh dengarkan ceritaku
Tidak lagi menyembunyikan mata sipit dibalik kacamata minus
Tapi dia benar benar butuh kacama minus itu
Hum tidak sedikitpun mengurangi pancaran sinar dari mata bulatnya 
Bahkan tak mampu menutupi alis tebalnya
Ataupun merusak bulu mata lentiknya
Tjakep!

Pesona
Yah dia punya itu
Suara
Jangan tanya 
Kamu pasti iri karena tidak pernah dengar dia bernyanyi 
Senyum
Hm bisa buat mood mu membaik

Terimakasih

Buat siapa saja tak terkecuali mantannya yang sudah membawa ku melihat dia dan dunianya :))

Rabu, 07 November 2018

Sejak Hari Itu, Langit Tak Pernah Sama

Aku menemukannya
Di sini
Di bawah langit senja berwarna jingga
Dengan senyum merekahnya seolah menyapa dunia 
Haiii
Katanya

Aku menemukannya
Di bawah langit senja berwarna jingga
Lagi
Ku liat dia sendiri
Aku coba memberanikan diri
Mendekati

Aku menemukan
Satu kesamaan 
Tentang aku dan dia yang disebut kita
Menatap Langit
Dan ternyata dia yang sama seperti langit 
Tinggi tanpa harus dijelaskan kalau tinggi
Ya seperti itulah definisi tinggi sesungguhnya
Indah ketika senja karena berwarna jingga
Tanpa harus dijelaskan kalau indah
Ya seperti itulah definisi indah sesungguhnya

Seperi itu langit kita
Dan akan tetap seperti itu bukan? Indah

Dan dia yang akan tetap seperti ini bukan?
Langitku.

Sampai hari itu tiba
Entah darimana
Entah apa itu
Mereka menyebutnya mendung
Sedikit membuat langit berubah
Bikin sejuk tapi bisa bikin sakit
Tapi seolah dia gak salah karena telah menyakiti
Memang sudah waktunya dia datang karena telah lama disimpan alam
Dan saatnya langit menyambutnya dengan sepenuh hati karena langit telah jatuh cinta dengan mendung



Dan sejak hari itu, langit tak pernah sama.

Senin, 06 Agustus 2018

Malaikat Kusam

Malaikat Kusam

Sunyi.
Sepi.
Suram.
Haha. 
Ini bukan tentang tawa ku di bulan November ataupun Desember
Bukan juga tentang bahagianya nonton film Pengabdi Setan
Apalagi tentang enaknya sushi stamina roll yang gratisan
Atau tentang bubuk lada ku yang terlalu banyak saat makan bubur ayam 66 
Tapi ini tentang kita
Huffftt aku tidak bisa menggambarkan kita sekarang.
Malaikat ku yang menjadi kusam.

Sekilas aku melihatmu seolah ingin menertawakanmu dan membanggakan diriku
“Aku bisa hidup tanpa kamu”
“Aku lebih bahagia daripada kamu”
“Aku punya banyak teman daripada kamu”
“Untung lha aku ga sama kamu. Kamu jelek”
“Kamu ga lebih baik dari yang sebelumnya”

Tapi ketika aku tidak melihat senyum di wajahmu saat berbicara kepadaku, kebanggaan itu tiba-tiba berubah menjadi....
“Apa aku ga pantas dibahagiakan juga”
“Salah ku apa? Kok tega kamu. Maaf kalau aku ada salah tapi tolong jangan seperti ini”
“Bisakah kita seperti dulu”
“Huh aku rindu”

Tapi yang terjadi sekarang lha yang harus dijalani
Harus diterima
Tapi bolehkah aku mengeluh?
Huh ini sungguh menyebalkan.
Kenapa kamu tiba tiba menjadi kusam?
Ayo lha kamu yang paling bersinar diantara yang paling terang

Hm kurasa kamu tidak akan pernah bersinar lagi
Karna yang aku tau dan rasa sekarang
Kamu tidak terlalu baik untuk diperjuangkan
Dan tidak terlalu indah untuk ditangisi
Apalagi terlalu istimewa untuk diminta tetap disisi
Bahkan tidak terlalu pantas untuk aku tulis di sini

Huh pergilah.
Malaikat kusam.
Aku tidak akan menulis bahwa aku menyesal pernah bahagia dengan semua tentangmu 
Tapi aku akan menulis bahwa aku berterimakasih karena membuat pengalaman baru dalam hidup dan akan lebih hati hati menuju kemenangan hati


Hahaha tapi aku bohong.

Sabtu, 26 Mei 2018

Manusia Jadi Jadian kah Kamu?

Manusia Jadi Jadian kah Kamu?

Kamu memang baik. Sangat baik. 
Tapi......

Manusia seperti apa kamu sebenarnya?
Yang selama ini aku anggap manusia paling baik sedunia.
Aku agungkan kamu
Aku sebut kamu malaikat
Terlihat tulus membantu orang
Ramah dan sopan kepada sesama
Selalu berperilaku seperti tanah
Menjadi biasa tapi kelihatan luar biasa.

Kamu memang baik. Sangat baik. 
Tapi .......

Aku liat ada yang berbeda disini
Aku rasa aku salah menilai selama ini
Seperi menjilat ludah sendiri
Karna aku masih ingat semua yang kau ucap hingga aku menamakanmu malaikat
Tapi....
Aku rasa kamu itu seperti....
Monster yang menyamar menjadi malaikat?
Atau setan yang ingin masuk surga?
Atau menyesal pernah menjadi sosok yang seperi tanah?
Hingga kamu sekarang berperilaku seperti langit?

Kamu memang baik. Sangat baik. 
Tapi .......

Kamu hilangkan tawa orang - orang yang menganggapmu kawan
Hanya untuk tawa satu orang
Mungkin itu yang dinamakan sangat baik bagi manusia jadi jadian sepertimu

Yang masih bebas bernafas dan tertawa di dunia. 
Huh.